Mitos Dari 2 Unyeng Unyeng

Mitos Dari 2 Unyeng Unyeng

Banyak cerita yang beranggapan di masyarakat yang mengatakan, apabila anak mempunyai unyeng-unyeng dua ini diartikan bahwa anak tersebut nakal. Pandangan tersebut ini masih terus dipercayai hingga sampai sekarang ini dan karenanya mereka yang memiliki unyeng-unyeng dua dianggap sebagai anak yang nakal.

Padahal, menurut pendapat Dokter Spesialis Anak RS Awal Bros Tangerang dr. Robert Soetandio, SpA, MSi, Med, jumlah seberapa banyaknya unyeng-unyeng ini tidak berkolerasi terhadap perilaku sang anak.

Dan pada sebelumnya, dr Robert mencoba memberikan penjelasan dari mana asalnya datang unyeng-unyeng ini. Dan menurut pendapatnya, unyeng-unyeng atau juga disebut hair whorls pada umumnya hanya ada satu di kepala.

Dan menurut penelitian genetis yang telah dilakukan Wunderlich serta Hereema pada sekitar 1975, hanya sekitar 1,5 persen populasi yang mempunyai dua atau lebih unyeng-unyeng. Dalam beberapa penelitian lain juga menemukan angka lebih besar, tetapi tidak lebih dari 6 persen.

Jumlah banyaknya unyeng-unyeng ini ternyata dipengaruhi oleh genetik. Yang artinya, apabila si kecil memiliki dua unyeng-unyeng, karakter itu ia peroleh dari ayah, ibu, maupun kakek atau neneknya. Genetik tersebut ternyata juga memiliki peran di dalam menentukan arah kemana pertumbuhan rambut di sekitar unyeng-unyeng, yakni sesuai dengan arah jarum jam ataukah berlawanan.

Unyeng-unyeng ini sesuai arah jam lebih umum, yaitu dimiliki 94 persen bayi baru lahir pada sekitar 1975, hal ini sesuai dengan penelitian Wunderlich dan Hereema. Penelitian lain juga mengatakan bahwa populasi yang memang memiliki unyeng-unyeng yang berlawanan dengan arah jarum jam tak melebihi dari 10 persen.

Namun mengenai hal ini tentu saja tak bisa dijadikan sebagai patokan dalam menentukan sifat dan karakter dari anak anak. Karena unyeng unyeng ini adalah faktor genetika yang tentu saja tak bisa dikaitkan dengan sifat dan karakter. Terlebih lagi dengan mitos mengenai seorang anak yang memiliki 2 unyeng unyeng dianggap sebagai anak yang memiliki sifat yang nakal. Tentu saja mitos ini tidak ada kebenarannya sama sekali. Dan mitos ini harus dihilangkan dari kepercayaan yang ada dimasyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *